Kamis, 22 Maret 2012

Cerita karangan

hi guys. gue gada kerjaan. gue bingung. gue gatau mau apa. gini ajadeh, gue kan lagi bikin novel gitu tuh. Judul bukunya sih THE GOLDEN EYES. tp msh dlm proses dan yg perlu lo tau, proses nya itu lamaaaa banget. ya gue pusing bgt nih tauga sih nyari idenya tuh something bgt. nah skrg gue mau ngepost salah satu dr bagian novel itu nih. semoga suka ya, selamat membaca !



Aku melihatnya, mengapa mereka tidak ?

                “(tok..tok..tok..) Vina, buka pintunya, nak! Cepat buka!” teriak Ibuku sambil mengetuk pintu kamarku dengan keras. Aku segera turun dari tempat tidurku dengan perasaan agak kesal. Ada apasih Mommy, kayak orang kemalingan aja deh.

“Ada apasih bun? Tumben manggil aku sambil teriak-teriak gitu. Temen aku aja sampe kaget” ucapku.

“Barusan kamu bilang apa? Temanmu? Mana? Perasaan Mommy, Mommy tidak melihat siapapun masuk ke rumah ini selain kamu.” Mommyku.

“Mommy, tadi kan aku sudah bilang. Temanku mau kesini, aku katakana ini selagi Mommy di dapur. Oh iya, ada apa sih ma kok tadi Mommy teriak-teriak gitu? Ada apa? Katakan. ” jelasku.

“Mommy tadi tidak sengaja lewat kamarmu, Mommy mendengar kamu sedang berbicara dengan seseorang. Bahkan Mommy juga mendengar ada suara gurauan. Mommy merasa ada hal yang aneh, katakan Vina, dengan siapa kamu berbicara barusan?” tegas Mommy.

“Oh itu, dia temanku yang barusan aku bilang ke Mommy.” kataku.

“Hah? Siapa? Sekarang mana dia?” tanya Mommy yang terlihat sangat heran.

“Dikamar mandi, hehe.” Jawabku sambil tetawa kecil.

“Aneh, padahal Mommy sama sekali tidak melihat ada temanmu yang masuk. Yasudahlah, abaikan saja. Kamu sudah makan?”

“Belum mah, nanti aja gih nunggu temen aku keluar.”

“Yasudah kalau begitu, jangan lupa ya. Ntar maag kamu kambuh lagi kalau tidak makan, makanan suah Mommy siapkan di meja. Mommy titip rumah ya, Mommy mau pergi, ada arisan RW di rumah tetangga.”

“Sip mah, dadaah.”
                Mommy berjalan menuju tangga dengan perasaan yang masih heran akan teman anaknya tersebut. Sangat aneh dan sangat heran. Tapi ia mencoba untuk melupakan hal itu dan bergegas meninggalkan rumah.
 

               
                Ya, Vina, adalah sesosok anak yang kelihatan misterius. Tidak hanya satu ataupun dua orang saja yang melihatnya melakukan hal yang aneh dan idak masuk akal, seperti sedang berbicara dan bercanda sendiri, menyukai ha-hal yang berbau mistis, dan lain-lain. Keluarganya, saudaranya, dan bahkan hampir seluruh temannya mengetahui hal itu. Kebiasaan ini telah dimiliki Vina semenjak ia kecil. Bahkan dulu orangtua nya pun sampai mengantarkannya ke psikologis karena saking herannya terhadap apa yang Vina lakukan. Konon menurut analisa sang Psikologis, Vina mempunyai keterbelakangan mental yang membuatnya sering melakukan hal yang jarang dilakukan oleh orang lain, bahkan tidak pernah dilakukan orang lain. Vina mempunyai keahlian dimana ia bisa melihat dunia lain, mengetahui hal-hal yang akan terjadi mendatang, dan bahkan setiap ia bermimpi kelak mimpinya tersebut akan menjadi sebuah kenyataan ataupun petunjuk. Orang-orang biasa menyebut hal ini “Manusia Indigo”.
                Terkadang Vina sering melakukan hal aneh yang tidak ia sadari dan orang lain menyadarinya. Ya, kejadian akan Mommynya yang sering mendengar Vina seolah-olah berbicara dengan sseorang bukan hanya sekali atau dua kali saja. Terkadang Vina menyadari akan hal anehnya, dan ketika orang lain mngetahuinya, ia hanya mengelak demi menghilangi rasa takut akan hal yang tidak dialami oleh orang lain selain dirinya.

                

 Esoknya, Vina bangun terlalu pagi. Ia melihat jam bekernya, sekilas ia melihat keluar jendela untuk melihat apakah hari sudah pagi atau belum. Karena jam masih pukul 04.00 pagi, akhirnya ia tidur kembali.
                Tak lama kemudian, Kring..kring..kring.. Jam bekernya berbunyi menunjukkan waktunya Vina untuk tidur. Ia segera menuju ke kamar mandi dan kemudian sarapan pagi. Hari ini papa nya lembur, jadi papa Vina berangkat awal ke kantor. Vina terpaksa harus pergi ke sekolah naik taksi.
                Sesampainya di sekolah, Vina memasuki gerbang sekolahnya yang besar. Ya, Vina bersekolah di salah satu sekolah elite di Bandung, tepatnya di salah satu SMP Internasional, yaitu Pazia International Junior High School atau lebih singkatnya SMP Pazia Internasional. Ia memasuki sekolahnya dengan perasaan yang tidak enak. Tidak seperti biasanya, ia tampak ceria dan bersemangat ketika hari sekolah tiba. Tapi kali ini, ia merasa orang-orang di sekelilingnya bersikap aneh, tak seperti biasanya. Vina tetap berjalan, terus berjalan, menusuri koridor sekolah menuju kelasnya yang cukup panjang hingga ia melihat sebuah tangga dimana tangga tersebut adalah tangga menuju ke kelasya, di lantai 2. Entah mengapa, ia melihat tangga tersebut dengan tatapan yang tajam, seakan-akan ia melihat seseorang yang mengajaknya berbicara.
                Ia mendekat, sangat dekat. Perlahan, ia tatap sesosok perempuan berjubah emas. Vina melihat
perempuan itu lebih seksama lagi. Vina melamunkan pandangannya kepada perempuan itu, dan sekejap ia menghilang. Vina tidak terlalu terkejut, karena ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
                Vina kembali melewati tangga tersebut dan bergegas menuju ke kelasnya. Hari ini adalah pelajaran matematika yang sangat tidak ia sukai. Disaat jam pelajaran berlangsung, ia hanya melamun dan mengingat sesosok perempuan yang ia temui di tangga tadi pagi. Pandangan matanya yang tajam, tubuhnya yang tinggi, dan alisnya yang tebal membuat Vina seolah-olah merasakan sesosok perempuan itu hadir disisinya.

 

                Kring..Kring..Kring, bel sekolah pun berbunyi 3 kali menandakan waktunya pulang sekolah tiba. Karena hari ini Daddy nya tidak bisa menjemput Vina, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki taksi. Ia menunggu taksi yang lewat di depan gerbang. Hingga akhirnya jam tangan menunjukkan pukul 04.30, belum satu pun taksi yang lewat sekolahnya. Aneh, tidak biasanya seperti ini , gumam Vina. Karena hari sudah semakin sore, akhirnya Vina pulang dengan berjalan kaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar